KISAH DI BALIK TERBITNYA NASEHAT

Kisah dibalik Terbitnya Nasehat
(The History of these Speeches)

Sangatlah menyenangkan menelusuri bagaimana dan kapan nasehat-nasehat ini hadir dalam wujud buku. Pada tahun 1971, saya bermigrasi ke Amerika Serikat untuk mendapatkan pekerjaan. Pada waktu itu, sangatlah sulit untuk mendapati satu atau dua buah masjid walaupun di kota-kota besarnya. Para mahasiswa Muslim biasanya mengerjakan shalat di ruang-ruang belajar di Universitas dimana mereka menuntut ilmu. Adapun di masjid yang ada, pendidikan Islam yang diberikan tidak begitu berhasil. Sangat sulit di masa itu mendapatkan pengajar agama Islam yang berkemampuan memadai. Mereka yang fasih berbahasa Arab, lemah kemampuannya dalam perbendaharaan kata dan pengucapan bahasa Inggris, ataupun sebaliknya yang mahir berbahasa Inggris tidak menguasai bahasa Arab. Sebagian besar masjid yang ada tidak memiliki Imam. Dalam keadaan sedemikian ini masyarakat Muslim mencoba menawarkan pendidikan Islam dengan bantuan sukarela dari para anggotanya.

Demikianlah cara saya menjalani 12 tahun pertama kehidupan saya di Amerika. Tingkat pendidikan Islam saya sangat terbatas dan keadaan saya pun tidak berbeda dengan seekor katak yang tinggal didalam sumur. Saya bersungguh-sungguh mencari seorang sarjana/ulama Islam yang dapat membantu pertumbuhan keislaman saya. Demi tercapainya tujuan ini, saya pun berpindah ke Los Angeles California. Direktur Masjid Wilayah Orange (Orange County) yang bernama Dr. Muzammil Siddiqui biasa mengajarkan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an setiap hari Ahad. Saya pun memetik banyak manfaat dari belajar disini. Suatu hari saya menyampaikan kelemahan saya dibidang ilmu Fiqih (hukum Islam) kepada Dr. Muzammil Siddiqui, “Jika anda sangat berkenan untuk mengajarkan ilmu itu seminggu sekali, tentu akan banyak anggota masyarakat muslim yang bisa memetik manfaat dari pelajaran itu.” Sungguh amat beruntung beliau bersedia mengajarkan fiqih sekali dalam seminggu. Dan ini berlangsung selama dua tahun. Inilah yang membuahkan akal fikiran yang luas bagi saya, dan mengentaskan saya dari pendekatan-pendekatan tradisional yang dangkal dan kaku. Cakrawala berfikir sayapun menjadi lebih luas, sehingga saya lebih merdeka dalam pemikiran dan memberi saya sebuah wawasan untuk mendengarkan dan menerima saudara-saudara Muslim yang berlatar belakang pendidikan pikiran yang berbeda.

Pada tahap kehidupan saya yang demikian, Saya mulai mencoba untuk menghafal beberapa bagian dari Al-Qur’an. Saya tidak dapat mengingat suatu surat dari Al-Qur’an tanpa memahami arti dan tafsirnya. Melalui cara pendekatan seperti diatas, dengan pertolongan Allah SWT, saya telah dapat menghafal beberapa bagian Al-Qur’an. Sementara itu, Hafidz Muhammad Ismail yang bertugas sebagai Imam masjid besar ini, pulang ke India untuk berlibur selama beberapa bulan.
Iapun menunjuk saya untuk menggantikan sementara posisinya sebagai Imam. Hal ini menyebabkan saya berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki kemampuan saya dalam membaca Al-Qur’an agar dapat diterima. Demikianlah cara Allah SWT memberikan jalan untuk pertumbuhan dan perkembangan ke-Islam-an saya.

Sekian lama berselang, banyak masjid baru dibangun di semua kota di Amerika. Shalat Jum’at juga diselenggarakan di setiap kampus universitas. Sementara Khatib sangat terbatas jumlahnya. Atas desakan para muda muslim yang berkuliah di UCLA (University of California Los Angeles), saya menyampaikan khutbah disana. Menyiapkan dan menyusun khutbah adalah tantangan yang berat, disisi lain keberhasilan menyampaikan khutbah merupakan hal yang sama sekali berbeda. Berbekal latar-belakang saya sebagai seorang guru sekolah di Amerika, saya tidak terlalu canggung untuk berkhutbah. Dan atas dukungan moral dari para mahasiswa itu, telah banyak khutbah yang saya sampaikan di kesempatan-kesempatan berikutnya. Dengan jalan demikian, saya terdorong untuk menyusun khutbah dengan berbagai topik. Memang terasa sekali bahwa ini sangat melelahkan, namun dibalik itu terdapat kepuasan yang tiada tara. Setelah itu, sayapun ditugasi sebagai Khatib hampir di setiap hari Jum’at di kota ini. Saya juga berkesempatan menyampaikan khutbah di Masjid Orange County.

Setelah bermukim selama enam tahun di Los Angeles, Saya pindah ke Detroit, Michigan. Sampai disini saya telah terbiasa menjalankan shalat berjamaah, sayangnya, tidak ada masjid di lingkungan tempat tinggal saya. Atas berkat rahmat Allah SWT saya mulai mendirikan sebuah masjid di lingkungan ini yang diberi nama Tawheed Center of Farmington Hills (Pusat Tauhid Farmington Hills). Pada awalnya, hampir setiap waktu saya harus menjadi khatib. Beberapa tahun berselang, dengan rahmat Allah SWT saya berkesempatan untuk mendirikan sebuah masjid lagi yang diberi nama Masjid Tawheed of Detroit di negara bagian Michigan. Sehingga hampir setiap hari Jum’at saya pun harus menyampaikan khutbah disalah satu dari kedua masjid itu. Kadang kala, saya juga harus bepergian ke kota tetangga, yaitu kota Windsor yang termasuk wilayah negara Canada.

Sebagai kegiatan tambahan, saya pernah menjabat sebagai General Manager pada organisasi pertolongan umat Muslim yang bernama Mercy International. Satu-satunya jalan untuk mengumpulkan dana bagi kegiatan organisasi ini adalah dengan mengunjungi masjid-masjid yang terdapat di berbagai kota besar di Amerika Serikat. Di kesempatan demikian, saya harus menyampaikan khutbah yang mengena (efektif) di masjid yang saya kunjungi, dan mengetuk nurani para jama’ah masjid untuk berinfaq. Diluar dugaan saya, bukan hanya kaum pria saja yang merelakan uangnya untuk disumbangkan, banyak kaum perempuan yang dengan ikhlas melepaskan perhiasan mereka untuk di sumbangkan demi menggapai Ridha Allah SWT.
Sebagai Imam Masjid Tauhid, saya pun berkewajiban memimpin penyelengaraan pernikahan umat Muslim di lingkungan ini, sesuai dengan aturan Perundang-undangan Negara Bagian Michigan. Sebagai konsekuensi dari tugas ini saya pun harus menyampaikan khutbah nikah. Lambat-laun saya bisa menyampaikan dengan lebih mengena dalam tugas sukarela ini.

Demikianlah, nasehat-nasehat didalam buku ini sebagian besar telah teruji dalam bentuk khutbah yang saya bawakan di berbagai masjid. Saya pun memetik manfaat yang tak terhingga besarnya dengan mempersiapkan dan menyusun khutbah-khutbah ini. Sangat kuat perasaan saya bahwa para pembaca pun dapat memetik hikmah dari berbagai khutbah yang saya tulis ini. Didalam proses penyusunannya saya sangat terbantu dengan kitab tafsir dari Mufti Muhammad Syafi’I (Semoga Allah meningkatkan derajat beliau didalam Surga). Dalam kesempatan ini, saya juga menyampaikan rasa terima kasih saya kepada semua guru dan para mahasiswa muda itu yang telah terlibat didalam bertumbuh-kembangnya saya didalam Islam.

Selanjutnya (setelah 26 tahun di Amerika), Allah SWT mencurahkan rahmat-Nya yang lebih besar lagi bagi diri saya dan membawa saya ke Kota Suci Madinah Al-Munawwarah. Dari kota inilah catatan khutbah-khutbah saya disampaikan kepada para jama’ah haji yang berbahasa inggris dalam bentuk buku dengan judul “Speeches for Inquiring Mind” (Nasehat Untuk Akal yang Dahaga). Beberapa surat dari jama’ah haji yang mengomentari tulisan saya ini juga dimuat didalam buku ini.
Saya berdo’a semoga Allah SWT berkenan menjadikan buku ini sebagai mata-air hidayah-Nya bagi para pembaca, dan semoga Allah SWT menerima upaya sederhana ini sebagai amal ibadah saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: